HUBUNGAN
ANTARA PENGGUNAAN NAPZA TERHADAP NUTRISI PADA MANUSIA
Qomariyatus Sholihah dan Francisca Indah Ekawati
Program Studi ilmu gizi
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
ABSTRAK
Latar Belakang
: Masalah
gizi yang dialami pasien ketergantungan narkoba disebabkan oleh penurunan nafsu
makan selama masa pengaruh obat dan ketika pecandu mengalami gejala putus obat
(withdrawal symptoms) di antaranya adalah depresi. Resiko terjadinya
depresi pada pengguna opiat lebih besar dibandingkan dengan pengguna jenis
narkoba yang lain dikarenakan kandungan zat-zat psikoaktif yang terdapat dalam
opiat dapat menyebabkan ketergantungan yang lebih kuat dibandingkan dengan
jenis narkoba yang lain. Pada keadaan depresi, seseorang cenderung lupa akan
pemenuhan kebutuhan dasar, seperti kebutuhan akan makanan, kebersihan diri dan
istirahat. Apabila asupan makanan rendah dan berlangsung dalam jangka waktu
yang relatif panjang, seseorang akan mengalami defisiensi zat gizi yang
berakibat pada penurunan status gizi.
ABSTRACT
Background:
Nutrient matter experienced by drugs addiction
patient is caused by the decrease of the lust-eating during drugs influence and
when the patient suffers a withdrawal symptoms, one of it is depression. Risk
of having a depression in opiate user is greater than other type of drugs
consumer, because the psychoactive substance content on the opiate might cause
a greater addiction than other type of drugs. On a depression circumstances,
somebody tend to forget basic needs fulfillment, for example the needs to eat,
rest and self hygiene. Low food intake at a relatively long period will results
someone’s nutrient deficiency, which caused several decrease of the nutritional
status.
PENDAHULUAN
NAPZA
adalah kepanjangan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya yang
merupakan sekelompok obat, yang berpengaruh pada kerja tubuh, terutama otak.
Satu sisi narkoba merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang
pengobatan, pelayanan kesehatan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Namun, di
sisi lain dapat menimbulkan ketergantungan apabila dipergunakan tanpa adanya
pengendalian.
NAPZA
(Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lain) adalah bahan/ zat/ obat yang
bila masuk ke dalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak/
susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan
fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta
ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA. Penyalahgunaan NAPZA adalah
penggunaan salah satu atau beberapa jenis NAPZA secara berkala atau teratur
diluar indikasi medis, sehingga menimbulkan gangguan kesehatan fisik, psikis
dan gangguan fungsi sosial (Azmiyati, 2014).
Ketergantungan
zat merupakan dampak dari penyalahgunaan NAPZA yang parah, hal ini sering
dianggap sebagai penyakit. Ketergantungan seperti ketidakmampuan untuk
mengendalikan atau menghentikan pemakaian zat menimbulkan gangguan fisik yang
hebat jika dihentikan akan berbahaya dan merugikan keluarga serta menimbulkan
dampak sosial yang luas. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap
penyalahgunaan NAPZA adalah pengetahuan, dimana dalam suatu kondisi jika
seseorang itu tahu bahwa hal yang akan dilakukannya akan berakibat buruk
terhadap dirinya maka orang tersebut kemungkinan tidak akan melakukan hal
tersebut (Menthan, 2013). Peningkatan pengetahuan dapat dilakukan dengan cara
penyuluhan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa ada
peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah pemberian penyuluhan (Badri M,
2013).
Penyebab timbulnya perilaku penyalahgunaan
narkoba dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal diantaranya:
tingkat religiusitas, peran keluarga dan peran teman sebaya. Mangunwijaya
mengemukakan bahwa tingkat religiusitas adalah religi yang telah dihayati oleh
seseorang dalam hati. Sedangkan menurut Sudarsono peran keluarga mempunyai
peran yang sangat penting dalam memberikan pendidikan dan pembentukan karakter4
dan menurut Santrock pengaruh teman sebaya yang bersifat negatif dapat dengan
mudah terbawa pada perilaku kurang baik seperti merokok, mencuri dan
menggunakan obat-obatan terlarang (narkoba) (Ricardo, 2010).
Penyalahgunaan
narkoba merupakan “penyakit endemik” dalam masyarakat modern, dapat dikatakan
bahwa penyalahgunaan narkoba merupakan penyakit kronik yang berulang kali
kambuh, yang hingga sekarang belum ditemukan upaya penanggulangan yang
memuaskan secara universal, baik dari sudut prevensi, terapi, maupun
rehabilitasi.
Masalah gizi
yang dialami pasien ketergantungan narkoba disebabkan oleh penurunan nafsu makan
selama masa pengaruh obat dan ketika pecandu mengalami gejala putus obat (withdrawal
symptoms) yang berupa kecemasan, kegelisahan, depresi, dan gejala psikis
lainnya. Gejala yang sering terjadi dan sangat berpengaruh terhadap proses
rehabilitasi pengguna narkoba adalah depresi. Resiko terjadinya depresi pada
pengguna opiat lebih besar dibandingkan dengan pengguna jenis narkoba yang lain
dikarenakan kandungan zat-zat psikoaktif yang terdapat dalam opiat dapat
menyebabkan ketergantungan yang lebih kuat dibandingkan dengan jenis narkoba
yang lain. Pada keadaan depresi, seseorang cenderung lupa akan pemenuhan
kebutuhan dasar, seperti kebutuhan akan makanan, kebersihan diri dan istirahat.
Apabila asupan makanan rendah dan berlangsung dalam jangka waktu yang relatif
panjang, seseorang akan mengalami defisiensi zat gizi yang berakibat pada
penurunan status gizi.
Tujuan peneltian
ini adalah untuk mengetahui hubungan antara penggunaan NAZPA dengan status gizi
(Nutrisi).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini
dilakukan pada pasien ketergantungan narkoba jenis opiat di Kampus Unit Terapi
dan Rehabilitasi (UNITRA) Badan Narkotika Nasional (BNN), Lido, Sukabumi dan
merupakan penelitian observasional dengan rancangan penelitian cross
sectional. Jumlah subjek sebesar 48 dipilih secara purposive sampling pada
pasien yang sedang menjalani rehabilitasi fase Primary dengan mengisi informed
consent dan memenuhi kriteria inklusi yaitu pernah menggunakan opiat berupa
morphin dan heroin. Pemilihan subjek dari fase Primary ini berdasarkan
pertimbangan bahwa pasien dari fase Primary telah dapat diajak
berkomunikasi secara dua arah.
Variabel bebas
adalah keadaan depresi dengan status gizi sebagai variabel terikat, dan
penyakit infeksi sebagai variabel pengontrol.
Data primer yang
dikumpulkan adalah data identitas subjek berupa nomer kode subjek, umur, jenis
kelamin, pendidikan, pekerjaan, jenis opiat yang pernah digunakan, gangguan
gastrointestinal, dan penyakit infeksi yang dialami subjek, isian Beck
Depression Inventory (BDI), asupan energi, asupan protein, berat badan, dan
tinggi badan subjek.
Status gizi didefinisikan sebagai keadaan tubuh
sebagai akibat konsumsi makanan (input) dan penggunaan zat-zat gizi (output) di
antaranya adalah metabolisme di dalam tubuh dan aktivitas fisik.9 Nilai status
gizi diperoleh melalui pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT), yaitu rasio antara
berat badan (kg) dan tinggi badan (m) kuadrat. Klasifikasi status gizi
berdasarkan IMT (menurut kriteria Asia Pasifik) yaitu < 18,5 merupakan
kategori status gizi kurang, 18,5-22,9 status gizi normal, 23-24,9 overweight,
25-29,9 obesitas I, dan ≥ 30 obesitas II.
Analisis
univariat untuk mengetahui karakteristik sampel penelitian dan mendeskripsikan
semua variabel yang diteliti. Dilakukan dengan memasukkan data dalam tabel
distribusi frekuensi untuk mendeskripsikan karakteristik sampel dan variabel
penelitian yaitu keadaan depresi dan status gizi berdasarkan IMT.
Analisis
bivariat untuk mengetahui hubungan variabel bebas dengan variabel terikat serta
keeratan hubungan dengan menggunakan uji korelasi Pearson product moment karena
data berdistribusi normal.
HASIL PENELITIAN
Karakteristik Subjek
Dari keseluruhan
pasien pada fase Primary di Unit Terapi dan Rehabilitasi (UNITRA) Badan
Narkotika Nasional (BNN) (71 orang) yang menggunakan opiat sebanyak 48 orang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseluruhan subjek (100%) berjenis kelamin
laki-laki, dengan kisaran umur antara 16 sampai dengan 43 tahun, lama pemakaian
narkoba antara 2,5 hingga 18 tahun, dan lama rehabilitasi antara 1 hingga 8
bulan. Karakteristik subjek lainnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Distribusi
Frekuensi Karakteristik Subjek
Karakteristik
|
Jumlah (n)
|
Persentase (%)
|
Pendidikan terakhir
a. SD
b. SMP
c. SMA
d. PT
|
1 5 30 12
|
2,1 10,4 62,5 25,0
|
Total
|
48
|
100,0
|
Pekerjaan
a. Pelajar/mahasiswa
b. Wiraswasta
c. Karyawan swasta
d. PNS
e. Pengangguran
|
6 12 10 1 19
|
12,5 25,0 20,8 2,1 39,8
|
Total
|
48
|
100,0
|
Jenis opiat yang digunakan
a. Morphin
b. Heroin
c. Morphin dan Heroin
|
2 30 16
|
4,2 62,5 33,3
|
Total
|
48
|
100,0
|
Gangguan gastrointestinal
a. Mual
b. Muntah
c. Diare
d. Mual dan mutah
e. Mual dan diare
f. Mual, muntah dan diare
g. Tidak sama sekali
|
8 2 2 3 0 2 31
|
16,7 4,2 4,2 6,3 0 4,2 64,6
|
Total
|
48
|
100,0
|
Penyakit infeksi
a. Ada infeksi
b. Tidak ada infeksi
|
34 14
|
70,8 29,2
|
Total
|
48
|
100,0
|
Keadaan Depresi
Hasil pengukuran
keadaan depresi menggunakan skor Beck Deperession Inventory (BDI)
diperoleh skor antara 2 hingga 37, distribusi kategori keadaan depresi dapat
dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Distribusi frekuensi keadaan depresi subjek
Kategori
|
Jumlah (n)
|
Persentase (%)
|
Normal
|
9
|
18,8
|
Depresi ringan
|
15
|
31,3
|
Depresi sedang
|
15
|
31,3
|
Depresi berat
|
9
|
18,8
|
Total
|
48
|
100,0
|
Dari Tabel 2 dapat diketahui bahwa
9 subjek (18,8%) mempunyai keadaan depresi normal, 15 subjek (31,3%) mengalami
depresi ringan, 15 subjek (31,3%) depresi sedang, dan 9 subjek (18,8%)
mengalami depresi berat.
Asupan Energi dan Protein
Asupan energi
dan protein subjek selama rehabilitasi relatif sama dari jenis, jumlah, dan
frekuensinya, karena semua pasien di Kampus Unit Terapi dan Rehabilitasi
(UNITRA) Badan Narkotika Nasional (BNN) baik pada fase Primary maupun
fase lainnya dikondisikan untuk menghabiskan makanan yang telah disediakan dari
bagian dapur. Berdasarkan hasil analisis menggunakan program nutrisurvey diperoleh
rata-rata asupan energi sebesar 2502,70 kkal dan asupan protein sebesar 66,70
gram.
Tabel 3. Distribusi frekuensi kecukupan
asupan energi dan protein
Kategori
|
Asupan
|
|||
Energi
|
Protein
|
|||
Jumlah (n)
|
Persentase (%)
|
Jumlah (n)
|
Persentase (%)
|
|
<100 %
|
42
|
87,5
|
47
|
97,9
|
6
|
12,5
|
1
|
2,1
|
|
Total
|
48
|
100
|
48
|
100
|
Dari Tabel 3
diketahui bahwa 42 subjek (87,5%) mempunyai kecukupan asupan energi <100%,
sebanyak 6 subjek (12,5%) mempunyai kecukupan ≥100%. Sedangkan untuk asupan
protein, sebanyak 47 subjek (97,9%) mempunyai kecukupan asupan protein
<100%, dan hanya 1 subjek (2,1%) yang mempunyai kecukupan asupan protein
≥100%.
Status Gizi
Sebagian besar
subjek penelitian, yaitu 28 subjek (58,3%) mempunyai status gizi normal, 2
subjek (4,2%) mempunyai status gizi kurang, 8 subjek (16,7%) mempunyai status
gizi lebih (overweight), 9 subjek (18,8%) obesitas I, dan satu subjek
(2,1%) obesitas II. Distribusi frekuensi status gizi dapat dilihat pada Tabel
4.
Tabel 4. Distribusi frekuensi status gizi
berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT)
Status gizi
|
Jumlah (n)
|
Persentase (%)
|
Kurang
|
2
|
4,2
|
Normal
|
28
|
58,3
|
Overweight
|
8
|
16,7
|
Obesitas I
|
9
|
18,8
|
Obesitas II
|
1
|
2,1
|
Total
|
48
|
100,0
|
PEMBAHASAN
Penelitian yang
dilakukan pada pasien fase Primary di Unit Terapi dan Rehabilitasi
(UNITRA) Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan hasil bahwa 18,8% subjek
mempunyai keadaan depresi normal, dan 81,2% sisanya mengalami depresi, dari
depresi ringan hingga berat.
Hal ini
menunjukkan bahwa keadaan depresi subjek sangat bervariasi, subjek yang lebih
lama masuk rehabilitasi (di atas empat bulan rehabilitasi) cenderung mempunyai
keadaan depresi normal, ringan,dan sedang, sedangkan subjek yang mempunyai
keadaan depresi berat berada pada jangka waktu satu hingga empat bulan
rehabilitasi. Keadaan depresi normal dan ringan pada subjek yang lebih lama
berada pada tahap Primary kemungkinan karena subjek telah lama lepas
dari pengaruh opiat serta frekuensi terjadi gejala putus obat menurun sehingga
fungsi sistem neurotransmiter di otak telah mulai berfungsi dengan lebih baik
tanpa pengaruh opiat dari luar.
Konsumsi opiat
dapat mengganggu fungsi-fungsi dari neurotransmiter di otak, seperti dopamin,
endorfin dan serotonin yang berperan dalam menciptakan kenyamanan, rasa tenang,
dan nafsu makan. Menurut dugaan para ahli, penggunaan kronis opiat dapat
mengurangi jumlah reseptor pada neuron penerima tempat neurotransmiter berada
sehingga menurunkan kemampuan otak untuk memproduksi neurotransmiter tersebut.
Hal ini menyebabkan perasaan tidak nyaman, depresi, dan kecemasan pada
pemakainya. Untuk membantu menumbuhkan kembali perasaan nyaman tersebut,
pemakai akan memakai opiat secara terus menerus hingga mengakibatkan
ketergantungan. Perubahan pada sistem neurotransmiter tersebut menjadi sebab
terjadinya depresi, ketagihan yang kuat, dan kecemasan pada saat penghentian
konsumsi zat yang dapat memunculkan gejala putus obat.(7)
Banyaknya subjek
yang mempunyai asupan energi maupun protein <100% tidak hanya disebabkan
oleh penurunan nafsu makan karena keadaan depresi, gangguan gastrointestinal
ataupun penyakit infeksi tetapi kemungkinan karena penatalaksanaan diet yang
tidak sesuai dengan kebutuhan subjek. Pada saat penelitian dilakukan,
penatalaksanaan diet pada subjek dilaksanakan hanya untuk memenuhi kebutuhan
subjek dalam keadaan normal tanpa memperhatikan status gizi serta adanya
gangguan gastrointestinal dan penyakit infeksi yang diderita oleh subjek.
Keseluruhan subjek diberikan diet yang sama, padahal dari hasil pengukuran
status gizi diketahui bahwa status gizi subjek bermacam-macam, mulai dari dari
status gizi kurang hingga obesitas II. Selain itu, dijumpai pula subjek yang
mengalami gangguan gastrointestinal dan satu atau lebih penyakit infeksi tetapi
diberikan diet yang sama dengan subjek yang tidak mengalami gangguan
gastrointestinal dan penyakit infeksi. Seharusnya penatalaksanaan diet pada
pasien ketergantungan narkoba terutama disertai dengan adanya penyakit infeksi
disesuaikan dengan jenis penyakit infeksi dan kemampuan pasien, karena pada
keadaan infeksi terjadi peningkatan kebutuhan energi untuk melawan infeksi yang
terjadi di dalam tubuh.
Hasil pengukuran
status gizi menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) diketahui bahwa sebagian besar
(58,3%) subjek mempunyai status gizi normal. Hasil ini cukup baik karena
sebagian besar subjek mempunyai status gizi normal. Namun hasil ini belum dapat
menggambarkan status gizi subjek yang sebenarnya karena status gizi merupakan
gambaran riwayat keadaan gizi masa lalu, yang tidak bisa digambarkan pada satu
waktu tertentu saja serta dipengaruhi oleh banyak faktor. Sebaiknya ada data
berat badan awal subjek ketika baru masuk rehabilitasi dan data laboratorium
pendukung supaya dapat dilakukan evaluasi terhadap status gizi subjek sejak
awal masuk rehabilitasi hingga dilakukannya penelitian sehingga dapat diketahui
ada tidaknya malnutrisi yang berkaitan dengan respon imun dan derajad keparahan
penyakit infeksi pada subjek.
Hubungan antara
malnutrisi dengan respon imun dan penyakit infeksi merupakan hubungan yang
sangat kompleks dan saling berpengaruh satu sama lain. Stimulasi dari respon
imun karena adanya infeksi dapat meningkatkan kebutuhan energi untuk
metabolisme melalui anabolisme energi dan substansi terkait yang menyebabkan
terjadinya hubungan timbal balik antara status gizi dan keparahan penyakit
infeksi.11 Seberapapun tingkat keparahan dari penyakit infeksi dapat
mempengaruhi status gizi, begitu juga sebaliknya. Terjadinya defisiensi zat
gizi, baik zat gizi makro maupun mikro dapat menyebabkan kerusakan sistem
pertahanan tubuh untuk melawan infeksi.12 Gangguan reseptor neurotransmiter otak
karena konsumsi opiat diketehui juga dapat menekan sistem imun tubuh secara
langsung dan dapat meningkatkan keparahan penyakit infeksi.
Hasil uji
korelasi bivariat antara keadaan depresi dengan status gizi menunjukkan bahwa
tidak ada hubungan antara keadaan depresi dengan status gizi. Hal ini dapat
terjadi kemungkinan karena adanya faktor selain keadaan depresi, asupan energi,
dan asupan protein yang turut mempengaruhi status gizi subjek, antara lain
gangguan gastrointestinal dan penyakit infeksi. Pada penelitian ini ditemukan
35,4% subjek mengalami gangguan gastrointestinal dan 70,8% subjek menderita
penyakit infeksi.
Pada sebuah
penelitian menunjukkan rendahnya asupan energi tidak mempengaruhi perbedaan
status gizi antara pengguna dan bukan pengguna narkoba. Hasil uji lain pada
penelitian yang sama menunjukkan bahwa faktor non diet mempengaruhi status gizi
pada pengguna narkoba yang menderita HIV/AIDS maupun tidak menderita HIV/AIDS.
Dari hasil tersebut diketahui bahwa status gizi tidak hanya dipengaruhi oleh
faktor diet saja, faktor non diet turut mempengaruhi status gizi. Faktor-faktor
non diet tersebut antara lain adanya penyakit infeksi lain seperti Hepatitis,
terjadinya malabsorpsi, peningkatan Angka Metabolisme Basal (AMB), dan
peningkatan aktifitas fisik.
Infeksi dapat
mempengaruhi status gizi melalui banyak mekanisme, antara lain melalui
penurunan asupan makanan dan absorpsi zat gizi, serta peningkatan penggunaan
zat gizi dan ekskresi protein serta zat gizi mikro yang merupakan salah satu
respon fase akut pertahanan tubuh untuk melawan pathogen yang masuk ke dalam
tubuh. Infeksi dapat meningkatkan pengeluaran pro oksidan, sitokin dan jenis
oksigen reaktif lainnya, yang menyebabkan peningkatan penggunaan vitamin dan
mineral antioksidan, seperti vitamin C, E, beta karoten, zat besi, seng,
selenium, mangaan dan tembaga yang digunakan untuk pembentukan enzim
antioksidan. Ketidakseimbangan antara pro oksidan dan antioksidan menyebabkan
stres oksidatif yang akan merusak sel, protein dan enzim sehingga dapat
meningkatkan replikasi pathogen. Pada individu yang terinfeksi HIV menunjukkan
terjadinya peningkatan permeabilitas saluran pencernaan dan gangguan
gastrointestinal pada fase awal infeksi yang dapat menyebabkan terjadinya
malabsorpsi. Malabsorpsi lemak dan karbohidrat dapat terjadi pada semua fase
infeksi HIV, baik pada orang dewasa maupun anak-anak.
KESIMPULAN
Dari hasil
penelitian yang dilakukan dapat disimpulakn bahwa nutrisi orang-orang yang
menggunakan napza tidak sesuai dengan keadaan normal, atau bahkan berkurang
dari keadaan normal. Hal ini disebabkan penurunan asupan makanan dan absorbsi
gizi-gizi kedalam tubuh. Namun ada juga beberapa pengguna yang memiliki nutrisi
yang normal yang kami dapati dalam penelitian kali ini.
UCAPAN TERIMAKASIH
Dalam kegiatan
penelitian kali ini peneliti mengucapkan terimakasih kepada pertama Kampus Unit
Terapi dan Rehabilitas (UNITRA) Badan Narkotika Nasional, Lido, Sukabumi yang
telah memberi izin kepada peneliti untuk melakukan penelitian. Kedua kepada
seluruh subjek yang telah membantu dan bekerjasama dengan baik selama kegiatan
penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Azmiyati, SR, dkk. 2014. Gambaran penggunaan NAPZA pada anak
jalanan di Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat (KEMAS), 9 (2):
137-143.
Badri M. Implementasi Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang
Narkotika Dalam Pelaksanaan Wajib Lapor Bagi Pecandu Narkotika. Jurnal
Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 13 (3): 7-12.
Menthan, Fadrian. 2013. Peranan Badan Narkotika Nasional Kota
Samarinda dalam Penanggulangan Masalah Narkoba di Kalangan Remaja Kota
Samarinda. Ejournal Administrasi Negara, 1 (2): 544-557.
Ricardo P. 2010. Upaya Penaggulangan Penyalahgunaan Narkoba Oleh
Kepolisian (Studi Kasus Satuan Narkoba Polres Metro Bekasi). Jurnal
Kriminologi Indonesia, 6 (3) : 232-245.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar