Selasa, 29 September 2015

HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN NAPZA TERHADAP NUTRISI PADA MANUSIA

 Qomariyatus Sholihah dan Francisca Indah Ekawati
 Program Studi ilmu gizi
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro


ABSTRAK
Latar Belakang : Masalah gizi yang dialami pasien ketergantungan narkoba disebabkan oleh penurunan nafsu makan selama masa pengaruh obat dan ketika pecandu mengalami gejala putus obat (withdrawal symptoms) di antaranya adalah depresi. Resiko terjadinya depresi pada pengguna opiat lebih besar dibandingkan dengan pengguna jenis narkoba yang lain dikarenakan kandungan zat-zat psikoaktif yang terdapat dalam opiat dapat menyebabkan ketergantungan yang lebih kuat dibandingkan dengan jenis narkoba yang lain. Pada keadaan depresi, seseorang cenderung lupa akan pemenuhan kebutuhan dasar, seperti kebutuhan akan makanan, kebersihan diri dan istirahat. Apabila asupan makanan rendah dan berlangsung dalam jangka waktu yang relatif panjang, seseorang akan mengalami defisiensi zat gizi yang berakibat pada penurunan status gizi.

ABSTRACT
Background: Nutrient matter experienced by drugs addiction patient is caused by the decrease of the lust-eating during drugs influence and when the patient suffers a withdrawal symptoms, one of it is depression. Risk of having a depression in opiate user is greater than other type of drugs consumer, because the psychoactive substance content on the opiate might cause a greater addiction than other type of drugs. On a depression circumstances, somebody tend to forget basic needs fulfillment, for example the needs to eat, rest and self hygiene. Low food intake at a relatively long period will results someone’s nutrient deficiency, which caused several decrease of the nutritional status.

PENDAHULUAN
NAPZA adalah kepanjangan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya yang merupakan sekelompok obat, yang berpengaruh pada kerja tubuh, terutama otak. Satu sisi narkoba merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang pengobatan, pelayanan kesehatan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Namun, di sisi lain dapat menimbulkan ketergantungan apabila dipergunakan tanpa adanya pengendalian.
NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lain) adalah bahan/ zat/ obat yang bila masuk ke dalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak/ susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA. Penyalahgunaan NAPZA adalah penggunaan salah satu atau beberapa jenis NAPZA secara berkala atau teratur diluar indikasi medis, sehingga menimbulkan gangguan kesehatan fisik, psikis dan gangguan fungsi sosial (Azmiyati, 2014).
Ketergantungan zat merupakan dampak dari penyalahgunaan NAPZA yang parah, hal ini sering dianggap sebagai penyakit. Ketergantungan seperti ketidakmampuan untuk mengendalikan atau menghentikan pemakaian zat menimbulkan gangguan fisik yang hebat jika dihentikan akan berbahaya dan merugikan keluarga serta menimbulkan dampak sosial yang luas. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penyalahgunaan NAPZA adalah pengetahuan, dimana dalam suatu kondisi jika seseorang itu tahu bahwa hal yang akan dilakukannya akan berakibat buruk terhadap dirinya maka orang tersebut kemungkinan tidak akan melakukan hal tersebut (Menthan, 2013). Peningkatan pengetahuan dapat dilakukan dengan cara penyuluhan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa ada peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah pemberian penyuluhan (Badri M, 2013).
Penyebab timbulnya perilaku penyalahgunaan narkoba dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal diantaranya: tingkat religiusitas, peran keluarga dan peran teman sebaya. Mangunwijaya mengemukakan bahwa tingkat religiusitas adalah religi yang telah dihayati oleh seseorang dalam hati. Sedangkan menurut Sudarsono peran keluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam memberikan pendidikan dan pembentukan karakter4 dan menurut Santrock pengaruh teman sebaya yang bersifat negatif dapat dengan mudah terbawa pada perilaku kurang baik seperti merokok, mencuri dan menggunakan obat-obatan terlarang (narkoba) (Ricardo, 2010).
Penyalahgunaan narkoba merupakan “penyakit endemik” dalam masyarakat modern, dapat dikatakan bahwa penyalahgunaan narkoba merupakan penyakit kronik yang berulang kali kambuh, yang hingga sekarang belum ditemukan upaya penanggulangan yang memuaskan secara universal, baik dari sudut prevensi, terapi, maupun rehabilitasi.
Masalah gizi yang dialami pasien ketergantungan narkoba disebabkan oleh penurunan nafsu makan selama masa pengaruh obat dan ketika pecandu mengalami gejala putus obat (withdrawal symptoms) yang berupa kecemasan, kegelisahan, depresi, dan gejala psikis lainnya. Gejala yang sering terjadi dan sangat berpengaruh terhadap proses rehabilitasi pengguna narkoba adalah depresi. Resiko terjadinya depresi pada pengguna opiat lebih besar dibandingkan dengan pengguna jenis narkoba yang lain dikarenakan kandungan zat-zat psikoaktif yang terdapat dalam opiat dapat menyebabkan ketergantungan yang lebih kuat dibandingkan dengan jenis narkoba yang lain. Pada keadaan depresi, seseorang cenderung lupa akan pemenuhan kebutuhan dasar, seperti kebutuhan akan makanan, kebersihan diri dan istirahat. Apabila asupan makanan rendah dan berlangsung dalam jangka waktu yang relatif panjang, seseorang akan mengalami defisiensi zat gizi yang berakibat pada penurunan status gizi.
Tujuan peneltian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara penggunaan NAZPA dengan status gizi (Nutrisi).

METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan pada pasien ketergantungan narkoba jenis opiat di Kampus Unit Terapi dan Rehabilitasi (UNITRA) Badan Narkotika Nasional (BNN), Lido, Sukabumi dan merupakan penelitian observasional dengan rancangan penelitian cross sectional. Jumlah subjek sebesar 48 dipilih secara purposive sampling pada pasien yang sedang menjalani rehabilitasi fase Primary dengan mengisi informed consent dan memenuhi kriteria inklusi yaitu pernah menggunakan opiat berupa morphin dan heroin. Pemilihan subjek dari fase Primary ini berdasarkan pertimbangan bahwa pasien dari fase Primary telah dapat diajak berkomunikasi secara dua arah.
Variabel bebas adalah keadaan depresi dengan status gizi sebagai variabel terikat, dan penyakit infeksi sebagai variabel pengontrol.
Data primer yang dikumpulkan adalah data identitas subjek berupa nomer kode subjek, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, jenis opiat yang pernah digunakan, gangguan gastrointestinal, dan penyakit infeksi yang dialami subjek, isian Beck Depression Inventory (BDI), asupan energi, asupan protein, berat badan, dan tinggi badan subjek.
Status gizi didefinisikan sebagai keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan (input) dan penggunaan zat-zat gizi (output) di antaranya adalah metabolisme di dalam tubuh dan aktivitas fisik.9 Nilai status gizi diperoleh melalui pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT), yaitu rasio antara berat badan (kg) dan tinggi badan (m) kuadrat. Klasifikasi status gizi berdasarkan IMT (menurut kriteria Asia Pasifik) yaitu < 18,5 merupakan kategori status gizi kurang, 18,5-22,9 status gizi normal, 23-24,9 overweight, 25-29,9 obesitas I, dan ≥ 30 obesitas II.
Analisis univariat untuk mengetahui karakteristik sampel penelitian dan mendeskripsikan semua variabel yang diteliti. Dilakukan dengan memasukkan data dalam tabel distribusi frekuensi untuk mendeskripsikan karakteristik sampel dan variabel penelitian yaitu keadaan depresi dan status gizi berdasarkan IMT.
Analisis bivariat untuk mengetahui hubungan variabel bebas dengan variabel terikat serta keeratan hubungan dengan menggunakan uji korelasi Pearson product moment karena data berdistribusi normal.

HASIL PENELITIAN
            Karakteristik Subjek
Dari keseluruhan pasien pada fase Primary di Unit Terapi dan Rehabilitasi (UNITRA) Badan Narkotika Nasional (BNN) (71 orang) yang menggunakan opiat sebanyak 48 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseluruhan subjek (100%) berjenis kelamin laki-laki, dengan kisaran umur antara 16 sampai dengan 43 tahun, lama pemakaian narkoba antara 2,5 hingga 18 tahun, dan lama rehabilitasi antara 1 hingga 8 bulan. Karakteristik subjek lainnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Subjek
Karakteristik
Jumlah (n)
Persentase (%)
Pendidikan terakhir
a. SD
b. SMP
c. SMA
d. PT

1 5 30 12
2,1 10,4 62,5 25,0
Total
48
100,0
Pekerjaan
a. Pelajar/mahasiswa
b. Wiraswasta
c. Karyawan swasta
d. PNS
e. Pengangguran

6 12 10 1 19
12,5 25,0 20,8 2,1 39,8
Total
48
100,0
Jenis opiat yang digunakan
a. Morphin
b. Heroin
c. Morphin dan Heroin

2 30 16
4,2 62,5 33,3
Total
48
100,0
Gangguan gastrointestinal
a. Mual
b. Muntah
c. Diare
d. Mual dan mutah
e. Mual dan diare
f. Mual, muntah dan diare
g. Tidak sama sekali

8 2 2 3 0 2 31
16,7 4,2 4,2 6,3 0 4,2 64,6
Total
48
100,0
Penyakit infeksi
a. Ada infeksi
b. Tidak ada infeksi

34 14
70,8 29,2
Total
48
100,0
Keadaan Depresi
Hasil pengukuran keadaan depresi menggunakan skor Beck Deperession Inventory (BDI) diperoleh skor antara 2 hingga 37, distribusi kategori keadaan depresi dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Distribusi frekuensi keadaan depresi subjek
Kategori
Jumlah (n)
Persentase (%)
Normal
9
18,8
Depresi ringan
15
31,3
Depresi sedang
15
31,3
Depresi berat
9
18,8
Total
48
100,0

Dari Tabel 2 dapat diketahui bahwa 9 subjek (18,8%) mempunyai keadaan depresi normal, 15 subjek (31,3%) mengalami depresi ringan, 15 subjek (31,3%) depresi sedang, dan 9 subjek (18,8%) mengalami depresi berat.
Asupan Energi dan Protein
Asupan energi dan protein subjek selama rehabilitasi relatif sama dari jenis, jumlah, dan frekuensinya, karena semua pasien di Kampus Unit Terapi dan Rehabilitasi (UNITRA) Badan Narkotika Nasional (BNN) baik pada fase Primary maupun fase lainnya dikondisikan untuk menghabiskan makanan yang telah disediakan dari bagian dapur. Berdasarkan hasil analisis menggunakan program nutrisurvey diperoleh rata-rata asupan energi sebesar 2502,70 kkal dan asupan protein sebesar 66,70 gram.
Tabel 3. Distribusi frekuensi kecukupan asupan energi dan protein
Kategori
Asupan
Energi
Protein
Jumlah (n)
Persentase (%)
Jumlah (n)
Persentase (%)
<100 %
42
87,5
47
97,9
 100 %
6
12,5
1
2,1
Total
48
100
48
100

Dari Tabel 3 diketahui bahwa 42 subjek (87,5%) mempunyai kecukupan asupan energi <100%, sebanyak 6 subjek (12,5%) mempunyai kecukupan ≥100%. Sedangkan untuk asupan protein, sebanyak 47 subjek (97,9%) mempunyai kecukupan asupan protein <100%, dan hanya 1 subjek (2,1%) yang mempunyai kecukupan asupan protein ≥100%.
Status Gizi
Sebagian besar subjek penelitian, yaitu 28 subjek (58,3%) mempunyai status gizi normal, 2 subjek (4,2%) mempunyai status gizi kurang, 8 subjek (16,7%) mempunyai status gizi lebih (overweight), 9 subjek (18,8%) obesitas I, dan satu subjek (2,1%) obesitas II. Distribusi frekuensi status gizi dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Distribusi frekuensi status gizi berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT)
Status gizi
Jumlah (n)
Persentase (%)
Kurang
2
4,2
Normal
28
58,3
Overweight
8
16,7
Obesitas I
9
18,8
Obesitas II
1
2,1
Total
48
100,0

PEMBAHASAN
Penelitian yang dilakukan pada pasien fase Primary di Unit Terapi dan Rehabilitasi (UNITRA) Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan hasil bahwa 18,8% subjek mempunyai keadaan depresi normal, dan 81,2% sisanya mengalami depresi, dari depresi ringan hingga berat.
Hal ini menunjukkan bahwa keadaan depresi subjek sangat bervariasi, subjek yang lebih lama masuk rehabilitasi (di atas empat bulan rehabilitasi) cenderung mempunyai keadaan depresi normal, ringan,dan sedang, sedangkan subjek yang mempunyai keadaan depresi berat berada pada jangka waktu satu hingga empat bulan rehabilitasi. Keadaan depresi normal dan ringan pada subjek yang lebih lama berada pada tahap Primary kemungkinan karena subjek telah lama lepas dari pengaruh opiat serta frekuensi terjadi gejala putus obat menurun sehingga fungsi sistem neurotransmiter di otak telah mulai berfungsi dengan lebih baik tanpa pengaruh opiat dari luar.
Konsumsi opiat dapat mengganggu fungsi-fungsi dari neurotransmiter di otak, seperti dopamin, endorfin dan serotonin yang berperan dalam menciptakan kenyamanan, rasa tenang, dan nafsu makan. Menurut dugaan para ahli, penggunaan kronis opiat dapat mengurangi jumlah reseptor pada neuron penerima tempat neurotransmiter berada sehingga menurunkan kemampuan otak untuk memproduksi neurotransmiter tersebut. Hal ini menyebabkan perasaan tidak nyaman, depresi, dan kecemasan pada pemakainya. Untuk membantu menumbuhkan kembali perasaan nyaman tersebut, pemakai akan memakai opiat secara terus menerus hingga mengakibatkan ketergantungan. Perubahan pada sistem neurotransmiter tersebut menjadi sebab terjadinya depresi, ketagihan yang kuat, dan kecemasan pada saat penghentian konsumsi zat yang dapat memunculkan gejala putus obat.(7)
Banyaknya subjek yang mempunyai asupan energi maupun protein <100% tidak hanya disebabkan oleh penurunan nafsu makan karena keadaan depresi, gangguan gastrointestinal ataupun penyakit infeksi tetapi kemungkinan karena penatalaksanaan diet yang tidak sesuai dengan kebutuhan subjek. Pada saat penelitian dilakukan, penatalaksanaan diet pada subjek dilaksanakan hanya untuk memenuhi kebutuhan subjek dalam keadaan normal tanpa memperhatikan status gizi serta adanya gangguan gastrointestinal dan penyakit infeksi yang diderita oleh subjek. Keseluruhan subjek diberikan diet yang sama, padahal dari hasil pengukuran status gizi diketahui bahwa status gizi subjek bermacam-macam, mulai dari dari status gizi kurang hingga obesitas II. Selain itu, dijumpai pula subjek yang mengalami gangguan gastrointestinal dan satu atau lebih penyakit infeksi tetapi diberikan diet yang sama dengan subjek yang tidak mengalami gangguan gastrointestinal dan penyakit infeksi. Seharusnya penatalaksanaan diet pada pasien ketergantungan narkoba terutama disertai dengan adanya penyakit infeksi disesuaikan dengan jenis penyakit infeksi dan kemampuan pasien, karena pada keadaan infeksi terjadi peningkatan kebutuhan energi untuk melawan infeksi yang terjadi di dalam tubuh.
Hasil pengukuran status gizi menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) diketahui bahwa sebagian besar (58,3%) subjek mempunyai status gizi normal. Hasil ini cukup baik karena sebagian besar subjek mempunyai status gizi normal. Namun hasil ini belum dapat menggambarkan status gizi subjek yang sebenarnya karena status gizi merupakan gambaran riwayat keadaan gizi masa lalu, yang tidak bisa digambarkan pada satu waktu tertentu saja serta dipengaruhi oleh banyak faktor. Sebaiknya ada data berat badan awal subjek ketika baru masuk rehabilitasi dan data laboratorium pendukung supaya dapat dilakukan evaluasi terhadap status gizi subjek sejak awal masuk rehabilitasi hingga dilakukannya penelitian sehingga dapat diketahui ada tidaknya malnutrisi yang berkaitan dengan respon imun dan derajad keparahan penyakit infeksi pada subjek.
Hubungan antara malnutrisi dengan respon imun dan penyakit infeksi merupakan hubungan yang sangat kompleks dan saling berpengaruh satu sama lain. Stimulasi dari respon imun karena adanya infeksi dapat meningkatkan kebutuhan energi untuk metabolisme melalui anabolisme energi dan substansi terkait yang menyebabkan terjadinya hubungan timbal balik antara status gizi dan keparahan penyakit infeksi.11 Seberapapun tingkat keparahan dari penyakit infeksi dapat mempengaruhi status gizi, begitu juga sebaliknya. Terjadinya defisiensi zat gizi, baik zat gizi makro maupun mikro dapat menyebabkan kerusakan sistem pertahanan tubuh untuk melawan infeksi.12 Gangguan reseptor neurotransmiter otak karena konsumsi opiat diketehui juga dapat menekan sistem imun tubuh secara langsung dan dapat meningkatkan keparahan penyakit infeksi.
Hasil uji korelasi bivariat antara keadaan depresi dengan status gizi menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara keadaan depresi dengan status gizi. Hal ini dapat terjadi kemungkinan karena adanya faktor selain keadaan depresi, asupan energi, dan asupan protein yang turut mempengaruhi status gizi subjek, antara lain gangguan gastrointestinal dan penyakit infeksi. Pada penelitian ini ditemukan 35,4% subjek mengalami gangguan gastrointestinal dan 70,8% subjek menderita penyakit infeksi.
Pada sebuah penelitian menunjukkan rendahnya asupan energi tidak mempengaruhi perbedaan status gizi antara pengguna dan bukan pengguna narkoba. Hasil uji lain pada penelitian yang sama menunjukkan bahwa faktor non diet mempengaruhi status gizi pada pengguna narkoba yang menderita HIV/AIDS maupun tidak menderita HIV/AIDS. Dari hasil tersebut diketahui bahwa status gizi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor diet saja, faktor non diet turut mempengaruhi status gizi. Faktor-faktor non diet tersebut antara lain adanya penyakit infeksi lain seperti Hepatitis, terjadinya malabsorpsi, peningkatan Angka Metabolisme Basal (AMB), dan peningkatan aktifitas fisik.
Infeksi dapat mempengaruhi status gizi melalui banyak mekanisme, antara lain melalui penurunan asupan makanan dan absorpsi zat gizi, serta peningkatan penggunaan zat gizi dan ekskresi protein serta zat gizi mikro yang merupakan salah satu respon fase akut pertahanan tubuh untuk melawan pathogen yang masuk ke dalam tubuh. Infeksi dapat meningkatkan pengeluaran pro oksidan, sitokin dan jenis oksigen reaktif lainnya, yang menyebabkan peningkatan penggunaan vitamin dan mineral antioksidan, seperti vitamin C, E, beta karoten, zat besi, seng, selenium, mangaan dan tembaga yang digunakan untuk pembentukan enzim antioksidan. Ketidakseimbangan antara pro oksidan dan antioksidan menyebabkan stres oksidatif yang akan merusak sel, protein dan enzim sehingga dapat meningkatkan replikasi pathogen. Pada individu yang terinfeksi HIV menunjukkan terjadinya peningkatan permeabilitas saluran pencernaan dan gangguan gastrointestinal pada fase awal infeksi yang dapat menyebabkan terjadinya malabsorpsi. Malabsorpsi lemak dan karbohidrat dapat terjadi pada semua fase infeksi HIV, baik pada orang dewasa maupun anak-anak.

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulakn bahwa nutrisi orang-orang yang menggunakan napza tidak sesuai dengan keadaan normal, atau bahkan berkurang dari keadaan normal. Hal ini disebabkan penurunan asupan makanan dan absorbsi gizi-gizi kedalam tubuh. Namun ada juga beberapa pengguna yang memiliki nutrisi yang normal yang kami dapati dalam penelitian kali ini.

UCAPAN TERIMAKASIH
            Dalam kegiatan penelitian kali ini peneliti mengucapkan terimakasih kepada pertama Kampus Unit Terapi dan Rehabilitas (UNITRA) Badan Narkotika Nasional, Lido, Sukabumi yang telah memberi izin kepada peneliti untuk melakukan penelitian. Kedua kepada seluruh subjek yang telah membantu dan bekerjasama dengan baik selama kegiatan penelitian.

DAFTAR PUSTAKA
Azmiyati, SR, dkk. 2014. Gambaran penggunaan NAPZA pada anak jalanan di Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat (KEMAS), 9 (2): 137-143.
Badri M. Implementasi Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika Dalam Pelaksanaan Wajib Lapor Bagi Pecandu Narkotika. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 13 (3): 7-12.
Menthan, Fadrian. 2013. Peranan Badan Narkotika Nasional Kota Samarinda dalam Penanggulangan Masalah Narkoba di Kalangan Remaja Kota Samarinda. Ejournal Administrasi Negara, 1 (2): 544-557.
Ricardo P. 2010. Upaya Penaggulangan Penyalahgunaan Narkoba Oleh Kepolisian (Studi Kasus Satuan Narkoba Polres Metro Bekasi). Jurnal Kriminologi Indonesia, 6 (3) : 232-245.